Warga Keluhkan Pertalite di Grobogan Yang Langka

  • Whatsapp

Kabargan.com – Bahan bakar jenis Pertalite langka di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kabupaten Grobogan. Kelangkaan ini terjadi karena wacana pengurangan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak ramah lingkungan jenis research octane number (RON) 90 jenis Pertalite.

Kabid Perdagangan Disperindag Grobogan Indri Agus Velawati mengatakan, PT Pertamina (Persero) memiliki wacana mengurangi penggunaan BBM RON 88 Premium dan RON 90 jenis Pertalite.

Bacaan Lainnya

Hal itu menjadi komitmen mereka dalam mengurangi emisi karbon. Maka, akan mulai didorong penggunaan energi bahan bakar yang lebih bersih. Namun, masyarakat umumnya membeli BBM berdasarkan harga termurah, bukan berdasarkan teknologi kendaraan yang dipakai.

“Kenyataannya memang permintaan untuk Pertalite mengalami kenaikan. Apa lagi mobilitas sosial masyarakat di Kabupaten Grobogan mulai tinggi. Serta Pertalite ini menjadi pilihan karena seharga Premium atau sekitar Rp 7.650 per liter. Paling dicari setelah Premium mulai hilang,” jelasnya.

Meski begitu, beberapa bulan terakhir stok yang dilaporkan selalu aman. “Belum ada laporan adanya pengurangan di bulan ini. Distribusinya lancar, stok seharusnya aman. Mungkin permintaan konsumen yang mengalami kenaikan. Namun, adanya wacana penghapusan itu memang ada,” imbuhnya.

Sedangkan salah satu konsumen Pertalite, Nining, 24, mengaku, selama dua pekan ini sulit mencari Pertalite. Sudah hampir dua pekan susah nyarinya (Pertalite). “Biasanya di SPBU dekat rumah atau di sekitar kantor (Red, Kota Purwodadi) ada. Sekarang harus pagi atau malam hari nyarinya. Di waktu tertentu dan harus antre. Sekarang juga malah banyak pengecer yang membawa jerigen,” keluhnya.

Padahal sesuai dengan UU Nomor 22 tahun 2021, pengecer dilarang melakukan pembelian di SPBU. “Beberapa waktu lalu ada permudahan rekomendasi ke tingkat desa/kelurahan. Biasanya mereka bisa membawa rekomendasi dari desa. Harusnya ada pembatasannya juga maksimal 20 liter untuk para pengecer. Kenyataan di lapangan bisa jadi lebih. Kami tidak bisa memantau 24 jam,” keluh Kasi Pengembangan Promosi dan Sarana Perdagangan Sigit Adiwibowo.

Pos terkait